Langsung ke konten utama

TUGAS UAS TATTWA lll MAKNA FILOSOFIS SEGEHAN

TUGAS UAS TATTWA lll
MAKNA FILOSOFIS SEGEHAN

NAMA : I WAYAN PURNA IRAWAN
NIM : 13.1.1.1.1.300
NO : 28
PRODI : PAH

FAKULTAS DHARMA ACARYA IHDN DENPASAR 2015

KATA PENGANTAR

Om Swastyastu
Puji syukur saya sampaikan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida SangHyang Whidi Wasa, karena atas anugrah-Nya, sehingga akhirnya Tugas Makalah Tattwa ini dapat saya selesaikan.
Dimana Tugas Makalah Tattwa ini dirangkum dari berbagai sumber buku/lontar dan website yang ada, tugas makalah ini  hanya untuk menambah refrensi saya tentang ajaran tattwa.
Dan tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu dosen yang telah membimbing kami agar menjadi lebih baik lagi kedepannya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
Om santih santih santih Om

Melaya; April 2015










PENDAHULUAN

Kata segehan, berasal kata “Sega” berarti nasi (bahasa Jawa: sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya didominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi dikepal), tumpeng (nasi dibentuk kerucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang atau janur), diisi nasi, beserta lauk pauknya yang sangat sederhana seperti ?bawang merah, jahe, garam? dan lain-lainnya. dipergunakan juga api takep (dari dua buah sabut kelapa yang dicakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tatabuhan air, tuak, arak serta berem.












PEMBAHASAN
Segehan artinya “Suguh” (menyuguhkan), dalam hal ini adalah kepada Bhuta Kala, yang tak lain adalah akumulasi dari limbah/kotoran yang dihasilkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan manusia dalam kurun waktu tertentu. Dengan segehan inilah diharapkan dapat menetralisir dan menghilangkan pengaruh negatik dari libah tersebut. Segehan adalah lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan (palemahan).
Bhuta Kala dari kaca spiritual tercipta dari akumulasi limbah pikiran, perkataan dan perbuatan manusia, yang dipelihara oleh kosmologi semesta ini. Jadi segehan yang dihaturkan di Rumah bertujuan untuk mengharoniskan kembali kondisi rumah terutama dari sisi niskalanya, yang selama ini terkontaminasi oleh limbah yang kita buat. Jadi Caru yang paling baik adalah bagaimana kita dapat menjadikan rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tidur dan beristirahat, tapi harus dapat dimaknai bahwa rumah tak ubanya seperti badan kita ini.
Segehan dihaturkan kepada aspek SAKTI (kekuatan ) yaitu Dhurga lengkap dengan pasukannya termasuk Bhuta Kala itu sendiri. Segehan dan Caru banyak disinggung dalam lontar KALA TATTVA, lontar BHAMAKERTIH. Kalau dalam Susastra Smerti (Manavadharmasastra) ada disebutkan bahwa setiap kepala keluarga hendaknya melaksanakan upacara Bali (suguhan makanan kepada alam). dan menghaturkan persembahan di tempat-tempat terjadinya pembunuhan, seperti pada ulekan, pada sapu, pada kompor, pada asahan pisau, pada talenan.
Macam – Macam Segehan Segehan Kepel Puti Alas dari daun / taledan kecil yang berisi tangkih di salah satu ujungnya. taledan = segi 4, melambangkan 4 arah mata angin. Nasi putih 2 kepal, yang melambangkan Rwa Bhineda
a). Jahe, secara imiah memiliki sifat panas. Semangat dibutuhkan oleh manusia tapi tidak boleh emosional.
b). Bawang, memiliki sifat dingin. Manusia harus menggunakan kepala yang dingin dalam berbuat tapi tidak boleh bersifat dingin terhadap masalah-masalah sosial (cuek)
c). Garam, memiliki PH-0 artinya bersifat netral, garam adalah sarana yang mujarab untuk menetralisir berbagai energi yang merugikan manusia (tasik pinaka panelah sahananing ngaletehin).
Diatasnya disusun canang genten. Tetabuhan Arak, Berem, Tuak, adalah sejenis alkhohol, dimana alkhohol secara ilmiah sangat efektif dapat dipakai untuk membunuh berbagai kuman/bakteri yang merugikan. Oleh kedokteran dipakai untuk mensteril alat-alat kedokteran. Metabuh pada saat masegeh adalah agar semua bakteri, Virus, kuman yang merugikan yang ada di sekitar tempat itu menjadi hilang/mati.
Segehan Kepel Putih Kuning Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja salah satu nasinya diganti menjadi warna kuning.
Segehan Kepel warna lima Sama seperti segehan kepel putih, hanya saja warna nasinya menjadi 5, yaitu putih, merah, kuning, hitam dan brumbun.
Segehan Cacahan Segehan ini sudah lebih sempurna karena nasinya sudah dibagi menjadi lima atau delapan tempat. Sebagai alas digunakan taledan yang berisikan tujuh atau Sembilan buah tangkih. Kalau menggunakan 7 (tujuh) tangkih; 5 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di timur, selatan, barat, uatara dan tengah. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. Kemudian di atas disusun dengan canang genten. Kalau menggunakan 11 (sebelas) tangkih: 9 tangkih untuk tempat nasi yang posisinya di mengikuti arah mata angin. 1 tangkih untuk tempat untuk lauk pauknya yaitu bawang, jahe dan garam. 1 tangkih lagi untuk tempat base tampel, dan beras. Kemudian di atas disusun dengan canang genten.
Ke-empat jenis segehan di atas dapat dipergunakan setiap kajeng klwion atau pada saat upacara – upacara kecil, artinya dibebaskan penggunaanya sesuai dengan kemampuan.
Segeh Agung Merupakan tingkat segehan terakhir. segehan ini biasanya dipergunakan pada saat upacara piodalan, penyineban Bhatara, budal dari pemelastian, serta menyertai upacara bhuta yadnya yang lebih besar lainnya. Untuk tingkatan rumah tangga, Segehan Agung dihaturkan saat hari Penampahan Galungan dan padda hari Tawur Agung Kesanga (Pengrupukan). Adapun isi dari segeh agung ini adalah; alasnya ngiru/ngiu, ditengahnya ditempatkan daksina penggolan (kelapanya dikupas tapi belum dihaluskan dan masih berserabut), segehan sebanyak 11 tanding, mengelilingi daksina dengan posisi canangnya menghadap keluar, tetabuhan (tuak, arak, berem dan air), pada acara-acara tertentu ada juga yang menambahkan dengan anak ayam yang masih kecil, sebelum bulu kincung (ekornya belum tumbuh bulu yang panjang) serta api takep (api yang dibuat dengan serabut kelapa yang dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk tanda + atau tampak dara). Adapun maksud simbolik banten ini adalah: a). Alasnya ngiru/ngiu, merupakan kesemestan alam b). Daksina, simbol kekuatan Tuhan c). Segehan sebanyak 11 tanding, merupakan jumlah dari pengider-ider (9 arah mata angindan arah atas bawah) serta merupakan jumlah lubang dalam tubuh manusia diantaranya; 2 lubang mata, 2 lubang telinga, 2 lubang hidung, 1 lubang mulut, 1 lubang dubur, 2 lubang kelamin serta 1 lubang cakra (pusar). d). Zat cair yaitu arak (putih/Iswara), darah (merah/Brahma), tuak (kuning/Mahadewa), berem (hitam/Wisnu) dan air (netral/siwa). e). Anak ayam, merupakan simbol lobha, keangkuhan, serta semua sifat yang menyerupai ayam d). Api takep, api simbol dewa agni yang menghancurkan efek negatif, dan bentuk + (tampak dara) maksudnya untuk menetralisir segala pengaruh negatif. Adapun tata cara saat menghaturkan Segehan Agung adalah pertama menghaturkan segehannya dulu yang berdampingan dengan api takep, kemudian buah kelapanya dipecah menjadi lima, di taruh mengikuti arah mata angin, kemudian anak ayam di putuskan lehernya sehingga darahnya menciprat keluar dan dioleskan pada kelapa yang telah dipecahkan tadi, telor kemudian dipecahkan, di ”ayabin” kemudian ditutup dengan tetabuhan.
Mantra Masegeh * Untuk segehan yang dihaturkan di sor pelinggih: Om atma tatwatma suddha mam swaha, swasti swasti sarwa bhuta sukha pradhana ya namah swaha.
* Untuk segehan di Pemesu/pintu masuk: Om atma tattwama suddha mam swaha, swasti swasti sarwa dhurga bucari bhyo namah swaha
* Untuk Segehan Agung: Om sanghyang purusangkara, nugraha sira maring bhatari dhurga, nugraha sira maring sang bhuta dengen ameng amengan dewa, iki tadah saji nira sega agung iwak antiga, ri huwus ta sira amangan tetadahan sajinira, aywa ta sira anyengkalen manusanira ngastithi bhakti maring Widhi. Om buktyantu dhurga bucari, buktyantu sarwa bhutanam, buktyantu kala mawaca, buktyantu paisaca sanggayam bhyo namah swaha.
* Mantra menghaturkan Tetabuhan Arak-Berem-Tuak: Om ebek segara, ebek danu, ebek banyu pramananing hulun ya namah swaha.
  

     C. PENUTUP
Kesimpulan :
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu. Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.

*Sumber Bacaan: –Lontar Kala Tattwa –Lontar Bhama Kertih –Lontar Sunarigama – Lontar Mpu Lutuk
http://www.google.com  http://www.blogspot,com  http://www.wordpress.com 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Banten Prayascita

BANTEN PRAYASCITA om swastyastu            Isi dari postingan kali ini merupakan tugas mata kuliah Upakara yang sengaja penulis posting untuk membiasakan budaya berbagi. Siapa tahu ada di antara kita yang membutuhkan informasi tentang bagaimanakah Banten Prayascita itu. Oke, langsung saja!          Dalam masyarakat hindu bali, banten merupakan  salah satu komponen penting dalam kehidupan mereka ibaratnya masyarakat hindu menggunakan banten seperti mereka menggunakan  udara untuk bernafas. Banten memiliki arti sebagai  persembahan  serta sarana bagi umat Hindu Bali sebagai rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas dasar tulus ikhlas, perwujudan cinta kasih, serta tidak lupa untuk mewujudkan rasa terima kasih atas semua anugerah yang telah di limpahkan-Nya. 2.1 Banten Prayascita           ...

Kunci/Chords gitar Lolot - Galah Ngelahin Memitra

Halo Guys. Saya akan share kunci gitar/chords Lolot - Galah Ngelahin Memitra. Oke langsung mainkan saja! Tonton juga lirik dan musiknya👇 Lolot - Galah Ngelahin Memitra C                             Am Adi sesai metakon, dija jani beli Em                               F               G Adi sesai metakon, ngudyang jani beli C                                 Am Adi sesai metakon, jam kude beli mulih Em               ...

Makalah Nilai-nilai Moral atau Agama dan Pendidikan dalam cerita Mahabharata

Om swastyastu Makalah nilai-nilai moral atau agama dan pendidikan dalam cerita atau kitab Mahabharta                                 BAB I                        PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Umat Hindu umumnya tidak asing lagi dengan istilah Kali Yuga. Kata Kali sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta yang berarti keadaan yang penuh dengan pertentangan, perkelahian, percekcokan, bahkan pembunuhan yang dipicu oleh kecurigaan, ketidakadilan, kebohongan dengan kekerasan, di mana kejujuran sudah tidak ada tempatnya dan tersingkirkan. (Mertha, 2009 :1). Kali Yuga sendiri merupakan salah satu bagian dari pembagian jaman menurut Agama Hindu. Dalam susastra Purana, khususnya Brahmanda Purana dijelaskan tentang pembagian jaman yang dimaks...